Kamis, 19 Agustus 2010

TEHNIK MEMPRODUKSI MANGGA DILUAR MUSIM

 photo iklan posting BPBAG 517 x100_zpseeqcylwf.jpg

Di Thailand, buah mangga segar tersedia sepanjang tahun. Hal ini bisa terjadi karena penerapan metode atau tehnologi modern produksi buah di luar musim melalui pengaturan waktu induksi bunga disertai dengan pengendalian hama penayakit, pembrongsongan buah, serta pemberian air dan pupuk secara seimbang. Sebelumnya musim panen mangga secara alami hanyabterjadi pada bulan April sampai Mei. Dengan tehnologi produksi diluar musim, mangga dapat di produksi dari januari sampai desember.

Perkebunan mangga secara komersial talah banyak dibuka di indonesia, kendala yang dihadapi adalah sifat dari tanaman mangga yang berbuah secara musiman sehingga kontinuitasnya sulit, pada saat panen raya stok buah menumpuk sehingga harga jatuh. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan tehnik budidaya yang dapat mengatur saat pembungaan agar ketersediaan buah dapat terjamin sepanjang tahun.

Tehinik produksi mangga diluar musim yang paling umum digunakan adalah dengan pemberian paklobutrazol diikuti dengan penyemprotan zat pemecah dormansi. Pada perkebunan mangga skala komersil, ada kecenderungan bahwa pemakaian paklobutrazol sudah merupakan bagian dari kegiatan yang bersifat rutin.

Induksi pembungaan mangga terjadi 2-3 bulan setelah perlakuan paklobutrazol, tergantung varietasnya. Perlakuan paklobutrazol pada mangga gadung 21 menyebabkan pembungaan terjadi 2 bulan lebih cepat dari musim normalnya. Waktu masak buah semakin cepat dan kekerasan buah semakin berkurang dengan semakin meningkatnya takaran paklobutrazol. Hasil per poho meningkat 59 %, tetapi ukuran buah rata-rata menurun. Kandungan vitamin C meningkat tetapi pH dan total padatan terlarut tidak berubah (Purnomo dan Prahardini, 1989).

Dari berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan, dosis optimum paklobutrazol untuk menginduksi pembungaan mangga dan menekan pertumbuhan vegetatif tanpa merusak pohon berkisar antara 2,5-4g bahan aktif/pohon atau setara dengan 10-16 cc cultar/ liter air / pohon. Perlakuan yang melebihi 20 cc cultar/liter air / pohon menyebabkan munculnya perubahan bentuk daun yang menandakan bahwa pada konsentrasi diatas 20 cc/ liter air /pohon terjadi efek negatif dari paklobutrazol.

Hasil penelitian Poerwanto, et al., (1997) menunjukkan bahwa paklobutrazol dengan dosis 0,05 g/pohon sudah cukup efektif untuk meninduksi pembungaan mangga gadung 21, tetapi diikuti dengan aplikasi zat pemecah dormansi 1 bulan setelah penyemprotan paklobutrazol. Paklobutrazol menyebabkan bungan terinduksi, tetapi di lain pihak juga menyebabkan munculnya calon tunas generatif. Pemberian zat pemecah dormansi yang diaplikasikan pada mata tunas setelah aplikasi paklobutrazol akan memecahkan tunas dorman dan memaksa tunas-tunas tersebutmuncul. Dari beberapa jens dan konsentrasi zat pemecah dormansi yang digunakan, yang efektif memecahkan tunas bunga dorman yang telah terinduksi oleh pemberian paklobutrazol adalah benzil adenin 0,10 g/liter, etefon 0,40 g/l dan KNO3 40 g/l. Karena harga benzil adenin mahal dan sulit larut dalam air, untuk tujuan komersil disarankan untuk menggunkan etefon. Benzil adenin adalah zat pengatur tumbuh kelompok sitokinin yang berfungsi meningkatkan laju pembelahan sel meristem pada mata tunas sehingga memacu perkembangan dan pertumbuhan tunas tersebut. Sedangkan etefon mampu memecah dormansi mata tunas generatif karena etilen yang dilepaskan dari hasil reaksinya dalam tanaman meningkatkan permeabilitas membran sel sehingga mempermudah gerakan molekul ke sitoplasma. Kemampuan KNO3 dalam memecah dormansi mungkin berhubungan dengan peran ion k+ dalam meningkatkan translokasi sukrosa, peningkatan laju transportasi sukrosa pada apoplas dari sel mesofil daun, peningkatan laju transportasi sukrosa pada aoplas dari sel mesofil daun, peningkatan pemuatan pada floem maupun pengaruh langsung dari peningkatan tekanan osmosis ( Marschner,1986).

Paklobutrazol dapat diaplikasikannpada tanaman melalui 2 cara, yaitu: dengan penyemprotan melalui daun (folliar spray) dan melalui tanah ( soil drenchhing ). Aplikasi lewat tanah lebih efektif dibanding lewat daun dan pengaruhnya dapat bertahan lebih lama. Aplikasi lewat daun akan efektif jika dilakukan beberapa kali penyemprotan dengan dosis rendah. Untuk mangga, pemberian melalui tanah dengan cara disiramkan disekitar pangkal pohon dilakukan pada tanaman yangsehat dan pucuknya tidak sedang menumbuhkan pucuk atau daun muda. Sedangkan zat pemecah dormansi disemprotkan melalui daun secara merata keseluruh permukaan tanaman satu bulan setelah pemberian paklobutrazol ( Subhadrabhandu dan Tongumpai, 1990).

Selain paklobutrazol, ZPT yang lain adalah cyclosel. tetapi paklobutraol lebih efekif dibandingkan cyclosel dengan efek yang bisa bertahan sampai lebih dari satu tahun setelah perlakuan sementara retardan lain hanya mampu bertahan satu musim. Efek residu paklobutrazol pada mangga dilaporkan oleh Subhadrabandhu dan tongumpai (1990), bahwa mangga yang pada tahun pertama disemprot dengan 2 grm/ pohon kemudian pada tahun berikutnya disemprot lagi dengan 0,5;1,0;dan 1,5 gram/ pohon,dosis 0,5 dan 1,0 gram / pohon disamping menginduksi pembungaan juga meningkatkan prosentase tunas yang berbunga, sedangkan dosis 1,5 gram /pohon justru menghambat pembungaan mangga. Data tersebut menunjukan bahwa pemberian paklobutrazol secara terus-menerus akan berdampak buruk bagi pertumbuhan dan pembungaan berikutnya.

Kalium nitrat (KON3) juga dilaporkan dapat digunakan untuk merangsang produksi buah diluar musim. Keberhasilan penggunaan kalium nitrat dalam merangsang produksi buah diluar musim telah dilaporkan oleh efendi (1994) pada mangga. Di philipina penggunaan kalium nitrat pada mangga telah dilakukan sejak tahun 1979. penemuan tersebut memungkinkan Philipina memproduksi buah mangga kultivar pico,carabao dan pahutan sepanjang tahun dan menghilangkan biennial bearing (Bondad,1990). Zat pengatur tumbuh NAA (Naftalena Acetic Acid) juga dilaporkan dapat mempercepat pembungaan mangga. Pemberian dosis 25,50,dan 75 ppm dapat mempercepat tanaman berbungan 1-2 minggu dibandingkan dengan yang tidak diberi NAA. Frekwensi penyemprotan 1 minggu sekali selama 12 minggu.
(PT SIGMA GLOBAL HITECHS)




Terimakasih telah berkunjung ke GERBANG PERTANIAN, jika ingin melengkapi artikel ini silahkan tulis di kolom komentar. Jika anda menyukai artikel ini bagikan ke rekan-rekan anda dengan mengklik tombol suka dibawah ini..

0 komentar:

Posting Komentar