Selasa, 11 Mei 2010

MAU DIBAWA KEMANA MASA DEPAN PETANI INDONESIA?

 photo iklan posting BPBAG 517 x100_zpseeqcylwf.jpg

petani2 Salam pertanian! Sebelum saya memulai bercerita, kata-kata petani yang akan saya sebutkan nanti mengandung maksud petani padi. Begini ceritanya….. Kakek saya adalah seorang petani. Petani desa terpencil dengan luas lahan sekitar 1000 m2. Jangankan pestisida, pupuk pun tahunya hanya urea. Menurut cerita kakek dia mulai bertani sejak umur 20 tahunan, kehidupan bertani dimulai sejak terlepasnya predikat buruh tani dari bahunya.

Sampai sekarang kakek masih tetap bertani. Umur kakek saya sekarang sudah 95 tahun, berarti beliau sudah bertani selama 75 tahun. Dan jika dihitung berapa kali beliau menanam padi kira-kira sudah 150 kali. Kakek mempunyai sebuah rumah semi permanen dengan dinding yang belum diplester masih berbentu bata. Itupun hasil karya para putra-putranya beberapa tahun yang lalau. Beliau memiliki sepeda kayuh 1 buah dan kambing 5 ekor. Dan kalau saya rupiahkan kekayaan kakek tidak lebih dari 5 juta rupiah. Itupun diraih dari hasil kerja keras dan penuh keprihatinan serta kesederhanaan.

Itulah sekilas gambaran mayoritas petani indonesia sekarang ini. Lalu salah siapa ini? Padahal jasa beliau tidaklah dapat dihitung, coba anda pikirkan siapakah yang telah memberi makan berjuta-juta penduduk indonesia sejak 75 tahun silam sampai sekarang? Tetapi kenapa nasib petani kita masih seperti itu.

Menurut cerita dari rekan-rekan PPL senior, pemerintah telah menurunkan dana bertrilyunan untuk membantu petani kita. Untuk mendukung bergulirnya dana tersebut pemerintah juga membuat program pendampingan dari mulai KUT, BPLM, SMD sampai PUAP. Tapi mengapa petani masih tetap miskin? Apa ada yang salah dengan kebijakan pemerintah tersebut?

Saya kira pemerintah perlu membuat design kebijakan yang baru yang lebih bisa memahami kondisi riil mayoritas petani kita, dengan strategi yang lebih menggigit. Kalau hal tersebut tidak dilakukan, saya jamin kehidupan petani kita akan semakin terpuruk dan secara otomatis akan memutus siklus hidup para petani kita.

Negara indonesia akan kehilangan petani-petaninya karena sudah tidak ada generasi penerus petani yang mau bertani. Hal ini terjadi karena kaum muda menganggap mata pencaharian sebagai petani sudah tidak layak dan rendah bahkan hina. Mereka menganggap sudah tidak ada yang bisa diharapkan dari kehidupan bertani. Lalu mereka akan berbondong-bondong untuk mencari pekerjaan lain. Yang menjadi pertanyaan saya, Siapakah nanti yang akan menanam padi lagi ketika generasi tua sudah habis? Apakah anak-anak dari pak tani mau bertani?

Bangsa ini akan kehilangan lahan-lahan pertaniannya karena sudah tidak ada yang mau bertani lagi. Dan secara otomatis lahan-lahan pertanian tersebut akan disulap menjadi lahan yang penuh dengan bangunan. Sehingga negara kita akan kehilangan gelar sebagai Negara Agraris.

Untuk merubah gambaran keadaan masa depan suram tentang Indonesia itu, tentunya pemerintah harus membuat iklim pertanian dan perekonomian yang mendukung untuk petani kecil. Iklim yang bisa memudahkan petani kecil untuk tumbuh dan mengembangkan usahanya sehingga petani akan dengan mudah mencapai kesejahteraan hidup dari sisi materi. Kesejahteraan yang selama ini hanya menjadi impian mereka.

Dengan terbentuknya iklim yang mendukung kehidupan petani secara otomatis menjadikan anak turun mereka akan sangat bangga menerima warisan pekerjaan sebagai petani. Jika hal ini terjadi maka pemerintah tidak perlu lagi ragu akan masa depan pertanian indonesia, karena akan terbentuk petani generasi muda yang tangguh dan cakap serta mau dan mampu menerima inovasi teknologi.

-by maspary-


Terimakasih telah berkunjung ke GERBANG PERTANIAN, jika ingin melengkapi artikel ini silahkan tulis di kolom komentar. Jika anda menyukai artikel ini bagikan ke rekan-rekan anda dengan mengklik tombol suka dibawah ini..

2 komentar:

wahyudin al-ayyubi mengatakan...

penggugah semangat 45" izin copas pak

Jizz Dancer mengatakan...

harusnya yang muda berusaha!!! chayoo

Posting Komentar